Hat Yai, Thailand – Dalam rangka memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi pada bidang pengabdian kepada masyarakat di tingkat internasional, Dosen Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo, Dr. Ulil Hidayah, M.Pd.I, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan bacaan Al-Qur’an bagi jamaah halaqah muslimah di Al Hidayah Foundation Education and Social Development, Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand. Kegiatan ini berlangsung selama tujuh hari, mulai 18–24 Juli 2026.
Pendampingan dilaksanakan menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), yaitu pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada potensi dan aset yang telah dimiliki komunitas. Melalui pendekatan ini, kegiatan diawali dengan melihat potensi yang belum dioptimalkan dalam kualitas pembelajaran Al-Qur’an.
Pendampingan dilaksanakan menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), yaitu pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada potensi dan aset yang telah dimiliki komunitas. Melalui pendekatan ini, kegiatan diawali dengan melihat potensi yang belum dioptimalkan dalam kualitas pembelajaran Al-Qur’an.
Pada tahap awal, dilakukan pemetaan aset (asset mapping) terhadap komunitas muslimah di Al Hidayah Foundation. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa yayasan telah memiliki kegiatan halaqah Al-Qur’an yang berlangsung secara rutin. Jamaah secara aktif mengikuti pembacaan Al-Qur’an bersama serta kajian tadabbur Al-Qur’an yang dibimbing oleh Ustadzah Fatimah Useng.
Melalui proses observasi dan model simak baca, ditemukan beberapa pola bacaan yang memerlukan penguatan. Di antaranya adalah pelafalan beberapa huruf hijaiyah yang memiliki kemiripan bunyi, seperti huruf ز (Za’) yang masih terbaca seperti د (Dlad), serta huruf ث (Tsa’) yang sering dilafalkan menyerupai س (Sin). Selain itu, pada beberapa bacaan juga ditemukan perubahan bunyi lam pada alif lam ta’rif maupun lam waqaf yang terdengar bunyi huruf nun.
Pada awalnya, kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh keterbatasan artikulasi lidah masyarakat setempat dalam mengucapkan beberapa huruf hijaiyah. Namun, setelah dilakukan pengamatan lebih lanjut melalui praktik simak baca bersama Ustadzah Fatimah Useng, ditemukan fakta bahwa ustadzah mampu melafalkan seluruh huruf hijaiyah secara tepat sesuai kaidah tajwid. Sedangkan jamaah cenderung mengikuti pola pelafalan yang telah menjadi kebiasaan mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan terletak pada ketidakmampuan alat ucap, melainkan pada kebiasaan pelafalan yang telah berlangsung dalam waktu lama.
Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, program pendampingan difokuskan pada penguatan pemahaman sifat-sifat huruf (ṣifāt al-ḥurūf) sebagai salah satu aspek penting dalam memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an. Materi disampaikan melalui penjelasan mengenai karakter setiap huruf hijaiyah yang kemudian dilanjutkan dengan praktik simak baca, di mana peserta membaca secara bergantian dan mendapatkan koreksi langsung terhadap makhraj dan sifat huruf.
Selama tujuh hari pendampingan, terlihat adanya perkembangan yang positif. Jamaah mulai mampu membedakan pelafalan beberapa huruf hijaiyah yang sebelumnya sering disamakan sehingga bacaan Al-Qur’an terdengar lebih jelas dan sesuai dengan kaidah tajwid.
Salah satu catatan menarik dalam kegiatan ini adalah pada pelafalan lafal jalalah (الله) dalam bacaan yang dibaca tafkhim. Sebagian jamaah belum mampu mengucapkan bunyi yang benar secara sempurna sehingga masih terdengar “Al-lah”. Namun, pelafalan tersebut dinilai lebih tepat dibandingkan jika bunyinya bergeser hingga menyerupai “Aw-wah”, karena tetap lebih mendekati makhraj huruf yang benar dan dapat terus disempurnakan melalui latihan berkelanjutan. 
Antusiasme jamaah selama kegiatan berlangsung sangat tinggi. Model pembelajaran simak baca memberikan ruang interaksi yang intensif antara pendamping dan peserta. Bahkan, beberapa jamaah secara sukarela meminta agar bacaan Al-Qur’an mereka disimak dan dikoreksi secara langsung sebagai bagian dari proses perbaikan bacaan.
Dr. Ulil Hidayah menyampaikan bahwa pengabdian ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pembelajaran yang telah berjalan, melainkan sebagai bentuk kolaborasi akademik antara Institut Ahmad Dahlan Probolinggo dengan Al Hidayah Foundation Education and Social Development, Hat Yai, Thailand, dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an berbasis pemberdayaan Masyarakat.

“Komunitas muslimah di Al Hidayah Foundation telah memiliki aset yang sangat berharga berupa tradisi halaqah Al-Qur’an yang rutin dan semangat belajar yang tinggi. Pendampingan ini hadir untuk menguatkan aset tersebut melalui pengenalan sifat-sifat huruf dan praktik simak baca agar kualitas bacaan Al-Qur’an semakin baik,” ungkapnya.
Kedepannya, hasil pendampingan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas pada bidang pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan literasi Al-Qur’an di kawasan Asia Tenggara.